Tugu Adipura di Stabat Ambruk Sebelum Waktu: Rp698 Juta Uang Rakyat Dipertanyakan

oleh -2818 Dilihat

Langkat,Sumut GlobalNusantara.com – Sebuah proyek kebanggaan daerah, Tugu Adipura yang terletak di Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kini menuai kritik tajam. Pasalnya, bangunan yang baru berusia sekitar satu tahun itu sudah dalam kondisi rusak parah. Kerusakan terutama tampak pada bagian pinggiran tugu, di mana material coral dan semen tampak hancur dan terkelupas.

Pantauan langsung wartawan GlobalNusantara.com pada Kamis (5/6/2025) menunjukkan bahwa tugu tersebut sudah tidak lagi layak disebut representasi simbol penghargaan kebersihan dan tata kota. Padahal, tugu ini didirikan untuk memperingati capaian Kabupaten Langkat sebagai penerima Penghargaan Adipura, yang semestinya menjadi kebanggaan masyarakat.

Baca juga :  Perkuat Ketahanan Pangan, Polsek Semidang Aji Gelar Rapat Bahas Data Lahan Jagung

Data dari situs resmi pengadaan barang dan jasa menunjukkan bahwa pembangunan tugu ini menelan anggaran sebesar Rp698.412.000 yang bersumber dari APBD Kabupaten Langkat Tahun Anggaran 2023. Dana sebesar itu tentunya menjadi perhatian masyarakat, mengingat usia bangunan yang baru seumur jagung namun telah mengalami kerusakan fisik yang mencolok.

Proyek ini dimenangkan oleh CV Singgah Mata Simalem, sebuah perusahaan kontraktor yang beralamat di Dusun V Kampung Nangka, Desa Ara Condong, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat. Masyarakat mempertanyakan apakah perusahaan ini memiliki pengalaman dan kredibilitas yang cukup untuk menangani proyek dengan anggaran hampir Rp700 juta tersebut.

Baca juga :  Pelantikan Serentak Kepala Daerah di Sumsel: Awal Baru untuk Pembangunan Daerah

Saat hendak dikonfirmasi mengenai kerusakan tersebut, wartawan menemui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Langkat, Armen, di kantornya pada Kamis siang. Namun sayangnya, Armen belum memberikan keterangan resmi. Saat ditemui, ia hanya menjawab singkat, “Bentar ya, Bang, masih ada tamu,” lalu berlalu, meninggalkan wartawan tanpa kejelasan.

Kerusakan ini memunculkan dugaan adanya kecacatan dalam proses pelaksanaan proyek, mulai dari spesifikasi bahan bangunan, kualitas pekerjaan, hingga pengawasan dari dinas terkait. Sejumlah tokoh masyarakat dan aktivis lingkungan di Langkat bahkan menyerukan agar dilakukan audit menyeluruh terhadap proyek ini dan memeriksa kemungkinan adanya penyimpangan anggaran.

Selain menjadi simbol pencapaian, Tugu Adipura seharusnya juga berfungsi sebagai elemen estetika kota. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkan kebalikannya: monumen itu kini lebih menyerupai bangunan mangkrak yang terbengkalai. Masyarakat pun kecewa dan menuntut transparansi serta pertanggungjawaban dari pihak-pihak terkait.

Baca juga :  GUDANG ILEGAL HINGGA UANG PELICIN: AWaSI JAMBI BONGKAR DUGAAN MAFIA MIGAS DI DEPOT PERTAMINA KASANG

Dengan anggaran ratusan juta rupiah yang berasal dari uang rakyat, kerusakan dini ini patut diselidiki. Pemerintah daerah, khususnya Inspektorat dan DPRD Langkat, diharapkan segera turun tangan untuk melakukan investigasi serta mengungkap penyebab kerusakan. Masyarakat menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji, demi menjaga akuntabilitas dan kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran daerah.

(GN – Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.