GlobalNusantara.id,OKU TIMUR
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Martapura kembali menunjukkan komitmennya dalam pembinaan narapidana yang berkelanjutan dan berdampak positif. Pada Rabu, 21 Mei 2025, Lapas ini melaksanakan panen perdana kangkung hasil budidaya warga binaan, sekaligus menjadi bukti nyata dukungan mereka terhadap program ketahanan pangan nasional. Kegiatan ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya transformasi kehidupan narapidana selama masa hukuman.
Panen kangkung dilaksanakan mulai pukul 10.14 WIB di area terbang Lapas Martapura, dengan melibatkan langsung Kepala Lapas, Abas Ruchandar, beserta jajaran petugas dan puluhan warga binaan. Proses panen berlangsung hingga siang hari, dengan hasil yang langsung didistribusikan ke dapur Lapas untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Tanaman kangkung ini merupakan hasil dari program pembinaan kemandirian yang telah dijalankan selama beberapa bulan terakhir.
Kangkung tersebut dibudidayakan secara intensif dengan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan Lapas yang sebelumnya tidak produktif. Petugas dan warga binaan menggunakan teknik pertanian sederhana namun efektif, seperti pengaturan irigasi dan pemupukan organik, untuk memastikan pertumbuhan optimal. Pemilihan kangkung sebagai komoditas utama didasari oleh masa panennya yang relatif singkat (3-4 minggu) dan nilai gizi yang tinggi, sehingga cocok untuk program berkelanjutan.
Program ini sejalan dengan instruksi Presiden RI dan Kementerian Imigrasi Dan Pemasyarakatan (KEMENIMIPAS) tentang penguatan ketahanan pangan dari dalam lapas. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pasokan pangan eksternal sekaligus menciptakan lapas yang mandiri. Selain itu, Menteri Imigrasi Dan Pemasyarakatan juga mendorong agar setiap lapas memiliki program produktif yang bisa memberdayakan warga binaan.
Selain menyediakan bahan pangan segar, kegiatan ini menjadi sarana pelatihan keterampilan pertanian bagi narapidana. Banyak warga binaan yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan bercocok tanam, kini mampu menguasai teknik dasar budidaya sayuran. Keterampilan ini diharapkan bisa menjadi bekal mereka setelah bebas, baik untuk bekerja di sektor pertanian maupun membuka usaha mandiri.
Kalapas Abas Ruchandar menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membentuk karakter warga binaan yang lebih produktif. “Kami tidak ingin mereka hanya menjalani hukuman, tapi juga pulang dengan bekal yang berguna. Pertanian adalah salah satu sektor yang selalu dibutuhkan masyarakat,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan serupa bisa dikembangkan dengan komoditas lain seperti cabai atau tomat.
Keberhasilan panen kangkung ini juga memperkuat hubungan antara petugas dan warga binaan, menciptakan lingkungan lapas yang lebih kolaboratif. Dari sisi lingkungan, pemanfaatan lahan kosong mengurangi limbah organik karena sisa tanaman diolah menjadi kompos. Lapas Martapura kini menjadi contoh bagaimana institusi pemasyarakatan bisa berkontribusi pada isu nasional seperti ketahanan pangan dan pengurangan sampah.
Kedepan, Lapas Martapura berencana memperluas program ini dengan menambah jenis tanaman dan melibatkan lebih banyak warga binaan. Mereka juga terbuka untuk kerja sama dengan dinas pertanian setempat atau pihak swasta guna meningkatkan skala produksi. Harapannya, inisiatif seperti ini bisa diadopsi oleh lapas lain, membuktikan bahwa pembinaan narapidana tidak hanya tentang hukuman, tapi juga tentang menciptakan perubahan yang bermakna bagi masyarakat.
GLOBALNUSANTARA
(T.HIDAYAT)








