Mengangkat Batang Terendam: Nadi Informasi dan Solidaritas Warga Langkat di Tengah Banjir

oleh -71 Dilihat

Langkat Sumut,Globalnusantara.id
Ketika banjir melanda Kabupaten Langkat,Sumatera Utara, sebuah inisiatif gotong royong digital bangkit menjadi penyambung nyawa informasi bagi ribuan warga. Media sosial “Mengangkat Batang Terendam”, yang terdiri dari grup WhatsApp dan halaman Facebook, berubah menjadi pusat komunikasi dan koordinasi 24 jam non-stop. Platform ini menjadi bukti nyata bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk merajut solidaritas dan mengatasi kesenjangan informasi di tengah kondisi darurat yang menyulitkan akses fisik.

Grup ini tidak sekadar menjadi tempat pengaduan,tetapi berfungsi aktif sebagai sarana interaksi yang dinamis. Warga saling berbagi informasi terkini tentang ketinggian air, jalur alternatif, lokasi pengungsian, serta kebutuhan mendesak di titik-titik terdampak. Semua informasi yang terkumpul dan terverifikasi di grup WhatsApp kemudian disebarluaskan kepada khalayak yang lebih luas melalui postingan di halaman Facebook “Mengangkat Batang Terendam”, memastikan jangkauan informasi yang maksimal.

Baca juga :  Gebrakan Polri! Sosialisasi di 10 Sekolah Langkat, Tawarkan Beasiswa Penuh & Asrama di SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Inisiator sekaligus penggagas gerakan ini,Drs. Syarifendi atau yang akrab disapa Andak Peranginangin, menegaskan bahwa filosofi di balik aksi ini adalah pemberdayaan masyarakat. Dari kediamannya di Gang Japar Rajimah, Secanggang, pada 29 November 2025, ia menyatakan bahwa dalam musibah, bantuan bisa datang dalam berbagai bentuk. “Kami memilih untuk berkontribusi melalui informasi, bekerja 24 jam untuk melayani semua warga, baik yang terimbas langsung maupun tidak, dari Besitang sampai Bahorok,” ujarnya.

Kunci keberhasilan operasi informasi ini terletak pada pembentukan jaringan koordinator lapangan yang tersebar di setiap kecamatan.Drs. Syarifendi membentuk tim inti, seperti Nur Maya dan Idris di Pematang Jaya, Umi Syam Nasution dan Ibrahim di Besitang, hingga Nur Hayati dan Umar Dhani di Pangkalan Susu. Koordinator-kordinator inilah yang menjadi ujung tombak, bertugas mengumpulkan data valid dari lapangan dan mendistribusikan informasi balasan dari pusat koordinasi digital kepada warga di daerahnya masing-masing.

Baca juga :  Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan Gelar Program Mudik Gratis Lebaran 2025

Jaringan tersebut juga mencakup koordinator di kecamatan lain seperti Babalan,Gebang, Tanjung Pura, Hinai, Stabat, hingga Bahorok, serta perwakilan khusus di Kota Binjai. Dalam kesempatan yang sama, Syarifendi juga menyampaikan apresiasi mendalam atas peran pemimpin daerah. “Warga Langkat patut bersyukur memiliki Bupati seperti H. Syah Afandin SH atau Bang Ondim, yang peka, peduli, dan turun langsung ke lokasi banjir. Ini menjadi semangat tambahan bagi kami,” tambahnya.

Lebih dari sekadar penyebar informasi,gerakan ini memiliki misi yang lebih mendalam: meringankan beban kolektif. Syarifendi menekankan bahwa tanggung jawab menghadapi bencana tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. “Beban ini jangan dipikul semua oleh Bupati. Kita semua harus melibatkan diri dengan apa yang bisa kita perbuat, apakah itu harta, tenaga, pikiran, atau sekadar doa,” paparnya. Inilah esensi gotong royong yang ingin dihidupkan kembali.

Baca juga :  Lima Sertifikat Hukum Eksklusif Diraih Ketua Umum IWOI, Icang Rahardian Perkuat Advokasi Jurnalis

Keberadaan”Mengangkat Batang Terendam” telah memberikan dampak konkret. Warga menjadi lebih tenang karena memiliki akses terhadap informasi yang terpercaya dan cepat. Koordinasi bantuan menjadi lebih tertarget karena kebutuhan di lapangan dapat dilaporkan secara real-time. Jalinan komunikasi ini juga mencegah penyebaran kepanikan dan hoaks, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah ujian alam yang sedang dihadapi.

Kisah”Mengangkat Batang Terendam” di Langkat ini lebih dari sekadar laporan tentang penanganan banjir. Ia merupakan contoh kontemporer yang powerful tentang bagaimana kesadaran kolektif warga, dipadukan dengan pemanfaatan teknologi secara cerdas, dapat menciptakan sistem penopang sosial yang tangguh. Inisiatif ini menunjukkan bahwa di era digital, solidaritas bisa dikelola secara terorganisir, menjadikan setiap warga bukan lagi sebagai pihak pasif yang menunggu, melainkan sebagai aktor aktif dalam penyelamatan bersama.(gn – Arifin).

No More Posts Available.

No more pages to load.