GlobalNusantara.id,jambi Tanjung Jabung Barat, 18 Maret 2025 – Di tengah besarnya anggaran dana desa yang dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat, masih banyak warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Salah satunya adalah keluarga Marhat (51), warga RT 002, Desa Margorukun, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Bersama istri dan anaknya, Marhat terpaksa tinggal di rumah tak layak huni yang kondisinya sangat mengkhawatirkan.
Rumah yang mereka tempati hanyalah sebuah gubuk reyot yang terbuat dari papan-papan lapuk dan sebagian besar sudah ditambal dengan terpal bekas. Atap bocor dan dinding yang mulai rapuh membuat keluarga ini harus bertaruh dengan cuaca setiap harinya. Gubuk tersebut terletak di pinggir jalan poros desa, jalur yang sering dilalui warga untuk ke ladang dan kebun. Namun, meskipun rumahnya berada di lokasi yang mudah terlihat, bantuan belum juga datang.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Marhat bekerja sebagai buruh harian lepas. Namun, penghasilannya tidak menentu dan sering kali tidak cukup untuk membeli bahan makanan, apalagi memperbaiki rumah. “Kadang untuk beli beras satu atau dua kilo saja, saya harus mengutang di warung tetangga,” ujar Marhat dengan mata berkaca-kaca. Kondisi ekonomi yang sulit ini membuatnya tidak punya pilihan selain bertahan di gubuk reyot tersebut.
Marhat berharap agar pemerintah desa, kabupaten, maupun provinsi dapat memberikan solusi bagi keluarga berpenghasilan rendah seperti dirinya. Menurutnya, program bedah rumah yang dibiayai dari dana desa belum merata, sehingga masih banyak warga miskin yang belum mendapatkan bantuan. “Kami berharap ada perhatian dari pemerintah atau instansi terkait. Kami ingin tinggal di rumah yang layak,” tambahnya.
Perjalanan menuju rumah Marhat tidaklah sulit. Dari pusat kota Tanjung Jabung Barat, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Desa Margorukun. Namun, meskipun lokasinya tidak jauh dari pusat pemerintahan, keluarga ini tetap belum tersentuh bantuan. Padahal, program rehabilitasi rumah tidak layak huni sudah menjadi salah satu prioritas dalam penggunaan dana desa.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah desa maupun instansi terkait mengenai kondisi keluarga Marhat. Tidak ada pihak yang bisa dihubungi untuk memberikan klarifikasi mengenai alasan mengapa keluarga ini belum mendapatkan bantuan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait efektivitas distribusi dana desa yang seharusnya membantu warga miskin.
Masyarakat setempat pun mulai menaruh perhatian pada kasus ini. Beberapa warga berharap adanya gotong royong atau inisiatif dari komunitas sosial untuk membantu keluarga Marhat. Selain itu, perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut juga diharapkan bisa berkontribusi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membangun rumah yang lebih layak bagi keluarga ini.
Kasus seperti ini menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan dalam distribusi bantuan sosial di daerah. Peran pemerintah dan elemen masyarakat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi warga yang harus bertahan hidup dalam kondisi yang tidak layak. Marhat dan keluarganya masih menunggu uluran tangan, berharap ada perubahan yang bisa memberikan mereka tempat tinggal yang lebih layak untuk dihuni.
(APRIANDI – GLOBAL NUSANTARA)






