Garda Depan Pesisir Lumahan Bersuara: Darurat Alat Tangkap Ancam Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan

oleh -278 Dilihat

Tanjung Jabung Barat,Jambi,Globalnusantara.id
Lumahan,Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, sebuah suara kolektif muncul menembus tembok birokrasi. Kelompok Nelayan Jaring Tangkap “Nelayan Sejati” secara resmi mengajukan permohonan mendesak kepada Bupati dan Dinas Perikanan setempat. Surat bernomor Istimewa/Terbuka yang ditandatangani pada 5 Februari 2024 itu bukan sekadar dokumen, melainkan cermin dari pergulatan harian puluhan nelayan yang selama ini bertarung dengan keterbatasan di laut lepas.

Dalam wawancara eksklusif,Musa, Ketua Kelompok Nelayan, membeberkan kondisi memilukan yang dihadapi kawan-kawannya. “Kami masih bertahan dengan jaring tradisional dan perahu kecil bermesin tempel yang sudah uzur,” ujarnya. Kondisi primitif ini, menurut Musa, menjadi biang keladi menurunnya hasil tangkapan. Cuaca buruk menjadi momok yang semakin memperparah keadaan, membuat aktivitas melaut yang seharusnya menjadi nafkah justru penuh ketidakpastian dan risiko.

Baca juga :  FKPPI Langkat Kukuhkan Kepengurusan Baru, Siap Bergerak Maju Periode 2025–2029

Keterbatasan ini bukan hanya urusan para nelayan di atas perahu.Efek domino langsung menyentuh jantung ekonomi masyarakat pesisir Lumahan. Banyak dari nelayan yang terpaksa menganggur di hari-hari tertentu karena peralatan yang rusak atau ketiadaan bahan bakar. Setiap kali nelayan tidak melaut, rantai pasok terputus—ibu-ibu kehilangan komoditas untuk dijual, dan anak muda kehilangan peluang kerja di sektor logistik dan pengolahan ikan.

Permohonan mereka detail dan konkret,mencerminkan kebutuhan riil di lapangan. Mereka tidak sekadar meminta “bantuan,” tetapi secara spesifik memohon jaring tangkap modern yang lebih efisien, mesin kapal yang andal untuk menjangkau daerah tangkapan yang lebih baik, serta pompon atau kletek (tempat penyimpanan ikan) untuk menjaga kualitas hasil tangkapan agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Baca juga :  OKU Timur Luncurkan Output SDDI dan Desa Cantik: Dorong Pembangunan Desa Berbasis Data

Aspirasi akar rumput ini mendapatkan legitimasi dan dukungan penuh dari pemerintah desa.Kepala Desa Lumahan, Ismail, yang turut membubuhkan tanda tangannya dalam surat tersebut, menegaskan bahwa kesejahteraan nelayan adalah indikator utama pergerakan ekonomi desa. “Kami dari pihak desa akan terus memfasilitasi komunikasi dengan dinas terkait agar aspirasi ini bisa segera direspons,” tegas Ismail, menyatakan komitmennya untuk menjadi jembatan bagi warga.

Bagi Musa dan kelompoknya,bantuan ini bukan tentang meminta belas kasihan. Ini adalah tentang menciptakan kemandirian dan kesejahteraan berkelanjutan. “Kami ingin kegiatan melaut ini bukan sekadar bertahan hidup, tapi bisa jadi sumber kesejahteraan masyarakat,” tuturnya dengan penuh keyakinan. Visi ini menunjukkan kesadaran yang tinggi bahwa dengan fondasi yang kuat, sektor perikanan dapat menjadi penggerak ekonomi utama desa.

Baca juga :  Dinilai Langgar Aturan, DPP KAMPUD Soroti Pengelolaan Lahan Parkir SMAN 1 Talang Padang Tanggamus

Di akhir pernyataannya,Musa mengingatkan sebuah peran strategis yang sering terlupakan. Ia menegaskan bahwa nelayan bukan hanya pencari nafkah untuk keluarga sendiri, melainkan garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional di sektor perikanan. Pernyataan ini mengangkat konteks perjuangan mereka dari sekadar isu lokal menjadi persoalan nasional yang lebih luas.

Permohonan dari Desa Lumahan ini kini berada di meja para pengambil kebijakan.Nasib puluhan nelayan dan harapan kesejahteraan warga pesisir tergantung pada respons yang diberikan. Mereka telah menyampaikan aspirasinya dengan jelas; kini saatnya pemerintah membuktikan bahwa suara dari garis depan pesisir didengar dan diwujudkan dalam aksi nyata, mengubah darurat alat tangkap menjadi cerita sukses pemberdayaan masyarakat.(gn –  APRIANDI).

No More Posts Available.

No more pages to load.