GlobalNusantara.id,OKU Timur, 17 Mei 2025 — Sebuah kisah inspiratif datang dari empat sahabat semasa kuliah di IAIN Supel, kini berubah menjadi Fakultas Syari’ah UNISA. Salah satu dari mereka, Muhammad Abdillah, resmi menyandang gelar doktor (Ph.D.) dari Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Pencapaian ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga simbol perjuangan kolektif yang ditempa dari masa muda yang penuh idealisme.
Mereka adalah Imam Subki, Syamsu Duha Nurdin, Satrio Budi Harra, dan Muhammad Abdillah—empat sahabat yang selalu kompak dalam organisasi mahasiswa. Imam kini menjabat di BAZNAS OKU Timur, Syamsu menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Satrio dikenal sebagai tokoh spiritual di Sumenep Madura, dan Abdillah menjadi akademisi internasional.
Pertemuan mereka bermula di bangku kuliah IAIN Supel satu angkatan. Tiga di antaranya—Imam, Syamsu, dan Satrio—berkuliah di Fakultas Syari’ah, sementara Abdillah memilih Fakultas Ushuluddin, jurusan Perbandingan Agama. Abdillah sejak awal dikenal sebagai kutu buku dan alumni Pondok Pesantren Gontor yang fasih berbahasa Arab dan Inggris.
Masa-masa kuliah mereka diwarnai semangat organisasi, terutama dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hanya Syamsu dan Satrio yang memiliki sepeda motor, sehingga mereka berempat kerap pergi bersama: Abdillah dibonceng Syamsu, dan Imam dibonceng Satrio. Kekompakan mereka terbina melalui banyak aktivitas kampus dan organisasi.
Salah satu momen penting adalah ketika Cabang HMI Surabaya Selatan kembali ke Cabang Surabaya. Dalam dinamika tersebut, ketiganya mendukung penuh Abdillah untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Cabang. Dengan perjuangan keras dan berbagai tantangan, akhirnya Abdillah terpilih sebagai Ketua HMI Cabang Surabaya.
“Nasib adalah rahasia Allah, tapi ikhtiar adalah kewajiban kita,” tutur Imam Subki. Ia mengutip QS. Ar-Ra’d ayat 11 sebagai pengingat bahwa perubahan nasib hanya akan datang ketika seseorang berusaha mengubah dirinya sendiri.
Kini, lebih dari satu dekade berlalu, perjuangan itu membuahkan hasil manis. Muhammad Abdillah telah menyelesaikan studi doktoralnya di Hartford, AS, membuktikan bahwa kerja keras, kebersamaan, dan doa adalah kombinasi yang tak pernah gagal.
Pencapaian ini menjadi inspirasi bagi generasi muda, terutama mahasiswa dan aktivis organisasi kemahasiswaan. Bahwa masa depan yang cemerlang bukan hanya milik mereka yang punya kelebihan materi, tetapi juga bagi mereka yang teguh menjaga visi dan solidaritas.
Empat sahabat ini membuktikan bahwa dari ruang kelas kecil IAIN Supel, lahir pemimpin dan cendekiawan yang kiprahnya menembus batas dunia.
(GN-HEN)






