Emisi Karbon Penerbangan Ternyata 2-5 Kali Lipat Lebih Besar Dari Perkiraan

oleh -344 Dilihat
foto: dsleeter_2000/flickr/red

GlobalNusantara.com, OKU – Pada era mobilitas global saat ini, aktivitas penerbangan menunjukkan dampak lingkungan yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan. Sebuah laporan terbaru dari National Geographic Magazine Indonesia (NGMI) mengungkap bahwa emisi karbon dari penggunaan pesawat ternyata bisa dua hingga lima kali lipat dari angka yang selama ini diyakini publik.

Semua penumpang yang melakukan perjalanan udara dan seluruh industri penerbangan global terlibat dalam realitas ini. Tidak hanya maskapai dan produsen bahan bakar, tetapi juga pemerintah dan konsumen individual setiap penerbangan menambah jumlah karbon dioksida (CO₂) dan efek pemanasan lainnya di atmosfer. Menggunakan pesawat bukan hanya soal kecepatan dan kemudahan, tetapi juga kontribusi terhadap jejak karbon global.

Baca juga :  Polsek Lubuk Batang Bagikan Makan Siang Bergizi, Dukung Kesehatan Siswa SDS Tanjung Sari
foto: rmi/red

Studi yang dikutip dalam liputan National Geographic Indonesia ini memperlihatkan bahwa dalam tiap penerbangan komersial modern terutama jarak jauh dan pada ketinggian tinggi pembentukan jejak karbon menjadi jauh lebih intensif daripada kalkulasi standar. Data terbaru menunjukkan bahwa estimasi sebelumnya mungkin terlalu optimistis dan belum memperhitungkan faktor-faktor seperti kondensasi uap, titik tinggi, dan efek non-CO₂.

Penerbangan menghasilkan emisi bukan hanya dari pembakaran bahan bakar, tetapi juga dari jejak masing-masing pesawat pada ketinggian tropopause, pembentukan lorong kondensasi, dan interaksi dengan atmosfer yang meningkatkan efek pemanasan global dengan signifikan. Faktor-faktor ini sering kali tidak dimasukkan dalam perhitungan awal. Laporan menyebut bahwa implementasi konvensional belum cukup realistis untuk mencerminkan “dosa karbon” nyata dari perjalanan udara.

Baca juga :  Pelantikan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (PPS) Kecamatan Martapura
foto: mdpi/red

Industri penerbangan global mulai meninjau ulang strategi keberlanjutan—baik melalui pengembangan bahan bakar bio-sustainable, efisiensi operasional pesawat, maupun kompensasi karbon. Di sisi konsumen, penting untuk menyadari bahwa satu penerbangan sekali pun memiliki dampak yang jauh di luar sekadar pembakaran bahan bakar. Dengan pemahaman yang lebih realistis ini, pilihan perjalanan, durasi, dan frekuensi penerbangan menjadi bagian dari solusi.

Perjalanan udara yang selama ini dianggap “cukup ramah” bagi lingkungan ternyata menyimpan beban yang jauh lebih besar dari estimasi dan tanggung jawab bersama diperlukan untuk mengatasinya. Industri dan konsumen sama-sama memiliki peran dalam mengurangi jejak, dengan mempertimbangkan alternatif transportasi atau meminimalkan penerbangan yang tidak perlu.

Baca juga :  Polsek Lubuk Raja Kawal Ketat Perayaan Natal 2024 di GPDI Batumarta II

Dengan fenomena ini, publikasi ini mendorong agar kebijakan pemerintah, moda transportasi, dan kesadaran masyarakat bergerak selaras untuk memitigasi dampak penerbangan terhadap perubahan iklim. Realitas bahwa emisi far beyond what was assumed harus menjadi panggilan untuk upaya yang lebih kuat dalam menjaga kualitas lingkungan global. (NGMI/rmi/mdpi/Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.