Dukungan Sistemik Diperlukan untuk Dorong Peningkatan Pemberian ASI di Indonesia

oleh -389 Dilihat
Mardiana, seorang ibu yang baru saja melahirkan di Puskesmas Sakra, bersama suaminya, Khairul, dan Rihana, bayi mereka yang berusia 11 hari, di Puskesmas Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. (Foto: UNICEF/RED)

Jakarta, GlobalNusantara.id – Dalam peringatan Pekan ASI Sedunia 2025, UNICEF (United Nations Children’s Fund) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan urgensi penguatan sistem dukungan bagi para ibu menyusui di Indonesia. Peringatan Pekan ASI Sedunia yang berlangsung setiap 1–7 Agustus di seluruh dunia, di Indonesia diperingati sepanjang bulan Agustus tahun ini dengan mengusung tema “Utamakan Menyusui: Wujudkan Sistem Dukungan yang Berkelanjutan.”

Kegiatan ini diinisiasi oleh UNICEF dan WHO, dengan dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Indonesia yang terus berkomitmen melindungi, mempromosikan, dan mendukung praktik menyusui. Momentum ini diperingati secara nasional sepanjang bulan Agustus 2025, dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan di seluruh Indonesia untuk memperkuat kesadaran pentingnya menyusui. Data menunjukkan angka pemberian ASI eksklusif meningkat dari 52% pada 2017 menjadi 66,4% pada 2024. Meski demikian, masih banyak bayi yang belum memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan penuh, masa krusial untuk mendapatkan manfaat kesehatan secara optimal.

Baca juga :  Polres OKU Timur Resmi Launching Pamapta: Wujud Transformasi Pelayanan Polri Yang Presisi

UNICEF dan WHO menilai bahwa dukungan konsisten dan berkelanjutan sangat penting agar para ibu menyusui memperoleh bantuan di mana pun mereka berada—baik di rumah, tempat kerja, maupun lingkungan masyarakat. Bentuk dukungan meliputi konseling tenaga kesehatan terlatih, kebijakan ramah ibu menyusui di tempat kerja, serta dukungan komunitas yang berkesinambungan.

Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan, “Dengan berinvestasi pada sistem dukungan bagi ibu menyusui, kita menciptakan jaring pengaman penting yang memastikan tak ada ibu yang menghadapi tantangan menyusui seorang diri. Ketika perempuan dan bayi mereka berhasil menyusui dengan baik, hal ini akan menciptakan dampak positif berantai—tidak hanya bagi tumbuh kembang anak, tapi juga bagi ketahanan keluarga, kesehatan masyarakat, dan masa depan bangsa yang lebih baik.”

Sementara itu, Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. N. Paranietharan, menyampaikan, “Peningkatan angka ASI eksklusif di Indonesia merupakan pencapaian luar biasa yang mencerminkan komitmen keluarga, komunitas, dan sistem kesehatan. Dengan sistem dukungan yang lebih kuat, setiap ibu di Indonesia dapat memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan penuh, demi memberi setiap anak awal kehidupan yang paling sehat.”

Baca juga :  Satgas Banops Pastikan Pengamanan Natal Berjalan Lancar di Gereja Betel Indonesia

ASI merupakan sumber utama nutrisi dan perlindungan pertama bagi bayi. UNICEF dan WHO merekomendasikan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran serta ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan tanpa tambahan makanan atau cairan lain.

Penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat meningkatkan kecerdasan anak hingga 3–4 poin IQ, mengurangi risiko obesitas, dan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit tidak menular. Bayi yang tidak disusui berisiko hingga 14 kali lebih tinggi meninggal sebelum usia satu tahun dibanding bayi yang disusui secara eksklusif. Selain itu, menyusui juga ramah lingkungan karena mengurangi emisi karbon dan limbah kemasan dibandingkan dengan produksi susu formula.

Baca juga :  Kapolres OKU Timur Serahkan Rumah Layak Huni bagi Warga Kurang Mampu di Semendawai Suku III

UNICEF dan WHO menyerukan kerja sama dari berbagai pihak—pemerintah, sektor swasta, dunia usaha, institusi kesehatan, dan masyarakat—untuk memperkuat sistem dukungan bagi ibu menyusui. Upaya yang disarankan meliputi:

  • Memperluas akses layanan konseling menyusui terampil melalui fasilitas kesehatan dan telekonseling.
  • Mendorong seluruh fasilitas bersalin menerapkan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui dalam Inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi.
  • Menegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI agar keluarga terlindungi dari promosi yang tidak etis.
  • Mengintegrasikan edukasi menyusui dalam pelatihan tenaga kesehatan.
  • Menerapkan kebijakan ramah keluarga seperti cuti melahirkan berbayar, ruang laktasi, dan pengaturan kerja fleksibel.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan setiap ibu di Indonesia mendapatkan dukungan penuh untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan kuat di masa depan. (UNICEF/RED)

No More Posts Available.

No more pages to load.