GlobalNusantara.id,Lahat 8 Maret 2025 – Pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) di Desa Jadian Lama, Kecamatan Mulak Sebingkai, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan, menuai sorotan dari masyarakat. Proyek yang bersumber dari APBD 2024 melalui Dinas Perkebunan dengan anggaran Rp.191.999.997,00 ini diduga dikerjakan asal-asalan dan tidak sesuai standar konstruksi yang seharusnya. Akibatnya, jalan yang baru dibangun tersebut kini sudah mengalami kerusakan, mengundang kekecewaan dari warga setempat.
Proyek ini seharusnya menjadi infrastruktur vital bagi para petani untuk mempermudah mobilitas alat dan hasil pertanian mereka. Namun, realitas di lapangan menunjukkan jalan tersebut mulai mengelupas, berlubang, dan saat musim panas menimbulkan banyak debu. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa material yang digunakan dalam pembangunan tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dalam standar pembangunan JUT.
Menurut pantauan langsung di lokasi, kualitas jalan terlihat tidak memenuhi standar beton yang seharusnya. Material yang digunakan diduga bercampur tanah dan memiliki kandungan semen yang sangat minim, sehingga menyebabkan daya tahannya rendah. Selain itu, pengadukan bahan diduga tidak menggunakan mesin molen, serta tidak adanya lantai dasar dan plastik sebagai bagian dari konstruksi standar cor beton.
Seorang warga Desa Jadian Lama, Asan, yang sering melintasi jalan tersebut mengungkapkan rasa kecewanya. “Baru beberapa bulan jalan ini dibangun, tapi sekarang sudah mengelupas dan hancur. Saat musim panas, debunya sangat mengganggu. Kami masyarakat berharap ada pembangunan yang berkualitas, bukan yang cepat rusak seperti ini,” ujarnya dengan nada kecewa.
Senada dengan Asan, seorang warga lainnya yang mengaku memahami sedikit banyak tentang konstruksi beton, Jhon, juga mengkritisi proyek ini. “Saya pernah bekerja sebagai buruh cor beton, jadi saya tahu sedikit banyak soal pembangunan jalan seperti ini. Kalau saya lihat, material yang digunakan kurang semen dan bercampur tanah. Dengan kondisi seperti ini, jelas jalan ini tidak akan bertahan lama. Sepertinya proyek ini hanya dikerjakan asal-asalan tanpa memikirkan ketahanannya,” tegasnya.
Selain kualitas jalan yang dipertanyakan, warga juga menyoroti kurangnya pengawasan dari pihak terkait. Seharusnya, Dinas Perkebunan sebagai instansi yang bertanggung jawab melakukan pengawasan ketat terhadap proyek ini agar kontraktor tidak bekerja seenaknya. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan nyata dari dinas terkait untuk menanggapi keluhan masyarakat.
Dugaan adanya unsur korupsi dalam proyek ini semakin menguat karena anggaran yang digunakan tidak sedikit, tetapi hasil pekerjaan jauh dari kata memuaskan. Jika proyek ini benar dikerjakan sesuai dengan standar yang telah ditentukan, seharusnya jalan bisa bertahan lebih lama dan tidak mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Warga berharap ada investigasi mendalam terkait kemungkinan penyimpangan dalam proyek ini.
Masyarakat Desa Jadian Lama meminta agar pihak berwenang, baik dari Inspektorat Daerah maupun aparat penegak hukum, turun tangan untuk mengaudit proyek ini. Jika ditemukan adanya penyimpangan atau indikasi korupsi, warga berharap ada tindakan hukum yang tegas terhadap kontraktor dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas proyek ini.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan ketidaksesuaian spesifikasi proyek pembangunan Jalan Usaha Tani ini. Masyarakat pun terus menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan ini agar tidak terjadi kerugian yang lebih besar di kemudian hari.
Kasus seperti ini seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah agar lebih ketat dalam melakukan pengawasan terhadap proyek-proyek yang menggunakan uang rakyat. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat ulah segelintir oknum yang hanya mementingkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.
(GN – M. SANGKUT – Team Pemburu Koruptor)






